Translate

Minggu, 13 September 2015

Gobar Mapay Alam Parahyangan

   Mapay alam parahyangan atau disingkat MAP merupakan rute klasik di daerah palintang. Rute yang dilewati berkarakter all mountain dan bike park. Dimulai dengan karpet, circle crop, palasari, batu lonceng, puncak bintang, jspd dan selesai di j2c atau tamiya. 
   Berkumpul di ujung berung kami berempat goweser dari jakarta dan tiga goweser dari bandung. Saya, om aef, om tri, dan om dayat berasal dari jakarta sedangkan kang tatang, kang jono dan kang gilang dari bandung.
   Untuk menuju rute MAP biasanya goweser menggunakan pickup atau loading dari masjid agung ujung berung. Namun bila ingin menikmati paket lengkap up hill dan down hill kita bisa full gowes. Mulai dari  masjid agung ujung berung melewati tanjakan panjang palintang yang sudah legendaris sampai ketitik dop loading di patrol palintang. Kebetulan pada hari yang sama ada beberapa teman teman dari santa cruz community dan Ngesod bekasi melakukan trip yang sama. 
    Setelah unloading di patrol palintang dan foto2 keluarga, kami memulai gowes menuju titik start jalur MAP. Entah kurang tidur atau tidak fit, om dayat yang full kostum perangkat downhill mengeluh sakit. Jalur menanjak yang hanya sedikit bisa menjadi berat bila kita stamina sedang drop.
    Setelah istirahat dan menanti harap harap cemas....Allhamdulillah akhirnya om dayat bisa melanjutkan perjalanan. Kang tatang awalnya sebagai sweeper sekarang bertambah tugasnya menjadi potter. Semua perabotan 'lenong' om dayat untuk sementara diungsikan ke teman2 agar beban dibadan om dayat ringan. Setelah reload air dan perbekalan diwarung terakhir kami siap memulai rute map.
    Di awali dengan menyisir jalur karpet dan silet kami disuguhi jalur single track yang menawan. Turunan landai dengan lembah disisi kiri menuntut kita tidak terlena dengan keindahan Maha Pencipta. Selanjutnya turunan agak curam dan berdebu wajib kami lewati sebelum menuju circle crop. Di jalur ini om dayat dan om tri terjatuh akibat roda depan yang slip terbenam debu.
    Circle crop merupakan ladang sayuran yang menghadap gunung dan membentuk seperti lingkaran. Akan sangat indah bila kita melintas di circle crop pada saat musim penghujan karena akan hijau pemandangannya. Setelah puas foto2 dispot ini selanjutnya kita akan menuruni areal pinus dan melewati pabrik kina.
    Palasari merupakan jalur yang dilewati sebelum kita menuju batu lonceng. Ditrek palasari kita menyusuri  hutan pinus dan berakhir diperkampungan. Saat turunan sempit dan curam giliran om aef yang terjungkal. Lumayan keras tapi syukurlah tidak mengalami cidera serius. Sebelum batu lonceng kami beristirahat sejenak melepas ketegangan karena beranderaline ria dari palasari.
    Batu lonceng adalah rute mendaki yang nantinya akan tembus ke puncak bintang. Tidak main main rute ini kita lebih banyak menuntun sepeda dibanding menggowesnya. Kali ini om dayat kembali 'tepar' karena medan menanjak tanpa ampun benar2 menguras tenaga. Kang tatang dengan tenaga mudanya mendorong 2 sepeda dan terkadang memanggul sepeda sembari mendorong sepedanya...stamina yang luarbiasa.
   Puas berfoto dibatu kasur kami melanjutkan destinasi selanjutnya yaitu puncak bintang. Puncak bintang sendiri adalah hutan pinus yang memiliki view yang indah karena kita bisa melihat kota bandung dari ketinggian. Puncak bintang memiliki icon bintang buatan yang sangat besar sehingga terlihat jelas sekali dari kejauhan.
    Menuju dua destinasi terakhir kita akan meluncur terus karena saatnya menikmati turunan.  Jalur firdaus dan tamiya merupakan rute terakhir dari MAP. Meliuk liuk diladang dan perkebunan warga dengan single track yang panjang sangat mengasyikkan. Setelah beristirahat dan makan, kami kembali harus menggowes menuju tempat parkir mobil.
Terimakasih kepada kang jono, kang gilang dan kang tatang yang telah sabar mengasuh kami yang dari jakarta. Alhamdulillah semua kembali tanpa cidera yang berarti.


foto keluarga menuju titik start

Jalur silet


circle crop
Palasari
Batu kasur

Puncak bintang
Jalur firdaus

Jalur Firdaus

Selasa, 01 September 2015

Gunung batu Jonggol

   Gunung batu jonggol sering kali dikunjungi oleh para goweser baik sebagai latar belakang atau melakukan pendakian kepuncaknya. Setelah pembuatan rute dan persiapan keberangkatan maka trip ini siap dieksekusi tanggal 29 agustus 2015.
   Sebanyak 13 goweser siap memeriahkan fun trip ini, om nanang, om yopi, om ade, om dedi, om josh, om asim, om saef, om tiko, om andi, om agus, om budi,  saya dan om boni. Kali ini saya sebagai penunjuk jalan dan om boni sebagai sweeper.
   Mengambil start dari rumah makan Jati Nunggal, diperkirakan hanya menempuh jarak 15 km menuju gunung batu dari sini. Adanya mis komunikasi saat tikum menyebabkan start menjadi mulur. Om josh dan om asim harus bernyasar ria sebelum menuju ke titik start. Setelah berkumpul semua dan sarapan kami langsung menelusuri jalan2 perkampungan. 
   Tanjakan curam langsung menyambut diawal perjalanan. Walau ada jeda datar sekitar 1.5 km tapi tanjakan2 bukit membuat shock bagi beberapa peserta. Diawal perjalanan mulai ada insiden2, om dedi yang terkendala dengan rd dan om josh bannya kurang angin.
Memasuki rolling dipersawahan peserta terpecah kembali....ternyata om yopi, om josh dan om asim tersasar. Mungkin sweeper sedang asik menikmati tanjakan sampai ga liat2 peserta yang dibelakang. Om dedi yang sedari awal bermasalah dengan Rd sekarang dihinggapi kunang2...hehe. Dengan segenap rayuan, kesabaran dan keberuntungan akhirnya om dedi bisa melanjutkan trip ini.
   Setelah regroup kami melanjutkan perjalananan ke gunung batu, dengan sesedikit mungkin bersinggungan dengan jalan aspal kami menyusuri jalan jalan perkampungan. Walau teduh tapi jalan yang kami lewati sebagian jalan rusak jadi kami tidak bisa cepat mengayuh sepeda. 
  Waktu menunjukkan pukul 10.30 tapi kami masih jauh dari gunung batu. Untuk mempersingkat waktu kami terpaksa menggunakan jalan utama agar kami punya cukup waktu untuk melakukan pendakian. Turunan aspal yang panjang menjadi penghibur setelah dihajar tanjakan terus menerus. Dari turunan ini ada jalan shortcut yang letaknya agak tanggung  sehingga banyak peserta yang kelewat. Jalur shortcut ini adalah single track yang menanjak sehingga membuat sebagian besar peserta ttb alias tuntun bike :). 
   Memasuki 4 km terakhir kami disuguhi jalan offroad yang menanjak. Untungnya jalan ini dinaungi pepohonan jadi matahari tidak terlalu menyengat. Setelah berjibaku dengan jalan menanjak akhirnya kami tiba dititik awal pendakian dari gunung batu.
   Setelah isoma kami lanjutkan pendakian ke gunung batu. Tidak terlalu jauh namun karena sudut  pendakian langsung terjal sehingga membuat pendakian berlangsung cepat. Namun keterjalan ini sangat bahaya jika nanti musim penghujan. Banyaknya wisatawan yang berkunjung membuat kami tidak bisa mencapai puncak tertinggi. Antrian menggunakan tali akan banyak menyita waktu jika kami harus memaksa tetap mendaki. Dengan mempertimbangkan waktu maka kami memutuskan untuk turun sedangkan om yopi dan om ade tetap lanjut mewakilkan kami dipuncak gunung batu.
   Sudah menunjukkan jam 3 sore kami harus berpacu dengan waktu karena kami harus kembali ke rumah makan Jatinunggal pukul 6 sore. Mengambil jalur yang berbeda dengan waktu berangkat kami memacu sepeda dengan cepat....karena jalan menurun hehehe. Dengan jumlah 8 orang regroup dapat dilakukan dengan lebih cepat. Dua teman kami melanjutkan gowes kembali kerumah yaitu om yopi dan om ade. Sedangkan tiga orang lagi om boni, om andi dan om nanang menyusul kami melalui jalan aspal. Knapa mereka menyusul...terlalu panjang ceritanya..hihihi.
   Perjalanan pulang lebih menarik karena kami banyak melintasi lintasan tunggal dan banyak turunan. Melintasi perkebunan dan perkampungan adalah rute kami menuju jati nunggal. Menyeberangi sungai cipamingkis adalah cek poin terakhir dari perjalanan kami. Akhirnya pukul 17.15 kami tiba diparkiran rumah makan jati nunggal. Dan tiga orang teman kami sudah sampai lebih dulu karena mereka menyusul lewat jalan aspal. Alhamdulillah semua peserta tiba dengan selamat dan tidak kurang apapun. 




Rumah makan Jati Nunggal

Rolling dipersawahan
Menyebrangi sungai Cipamingkis
Jalur Offroad

Gunung batu
Hamparan hijau
Mengenang wisatawan yang tewas di gunung batu

Untuk lokasi gunung batu jonggol, klik lokasi yang tertera dibawah










pura jagatkarta

    Pura jagatkarta merupakan tempat peribadatan agama hindu yang terletak di kota bogor. Terletak di kaki gunung salak, pura ini sangat indah dan sejuk untuk kita kunjungi.
    Banyak cara menuju ke pura ini dengan panduan google map kita bisa memilih jalan mana yang nyaman bagi kita. Karena pura ini digunakan untuk peribadatan biasanya pada hari besar umat hindu pura ini ditutup untuk umum. 
    Untuk menjaga kekhusuan dan ketertiban dari pengunjung untuk memasuki areal ini dilakukan pembatasan oleh pengelola pura. Tapi keindahan pura tetap bisa kita nikmati tanpa mengganggu upacara atau peribadatan yang sedang berlangsung.



Sepeda dan kendaraan lain hanya sampai di sini

Pura Jagatkarta

pos lapor bagi wisatawan
Untuk lokasi pura Jagatkarta, klik lokasi yang tertera dibawah








Senin, 17 Agustus 2015

Curug Malela

    Trip gowes kali ini bertujuan ke curug malela. Trip curug malela  yang rencananya sudah dari jauh2 hari akhirnya bisa diwujudkan. Lima goweser om boni, om nanang, om agus, om budi dan saya siap menuju curug malela.
   Goweser ke Curug malela biasanya menggunakan jalur dari bandung. Kali ini kami mencoba start dari arah Cianjur. Menurut rute yang dibuat, menuju curug ini hanya sekitar 24km saja, hemat banyak kilometer bila kita start dari Bandung.
   Berkumpul di stasiun Cibeber pukul 7 pagi kami berlima bersiap menuju trip eksplor curug malela. Dibawah sinar matahari pagi hari kami menyusuri perkampungan dan persawahanan. Entah kurang tidur atau kaget dengan sambutan tanjakan2 yang aduhai om nanang dan om budi mulai menunjukkan shock fisik.  Om nanang terkena kram perut dan om budi terkena mual2. Sedangkan om agus dan om boni sedang on fire melibas tanjakan makadam dan semen.
    Indahnya rute yang kami lewati membuat kami tak hentinya mengucap rasa syukur kepada maha pencipta. Tapi keindahan itu dibayar dengan tanjakan2 yang curam. Dari hasil review google earth rute yang kami lalui memang banyak membelah perbukitan. Tanjakan2 curam adalah ciri dari jalan2 perbukitan, tipe tanjakan semen tanah dan makadam adalah 'lauk' yg terhidang bagi kami selama perjalanan.
    Memasuki 5km om agus yang awalnya onfire mulai kelelahan. Tanjakan makadam mulai mengrogoti staminanya dengan masif. Sambil bersenda gurau kami saling menyemangati untuk tetap fokus menuju curug malela. Satu persatu tanjakan kami selesaikan dengan bermacam gaya dengan bergumam dimanakah turunannya. Akhirnya desa pasir bentang kami lewati dengan gembira karena turunan yang panjang dan view yang indah. Pasir bentang adalah desa yang harus kami lewati sebelum menuju desa selanjutnya.
    Memasuki kurang dari 10km dari curug malela, alhamdulillah semua peserta kembali on fire, mungkin karena hiburan turunan yang menggugah adrenalin. Tapi setelah inilah tanjakan2 super menunggu...dengan lebar 40-60cm tanjakan semen dan makadam silih berganti menguras emosi dan stamina. Syukurlah dijalur yang kami lewati banyak warung warga sehingga kami tidak khawatir kehabisan air. Curamnya tanjakan ini memaksa ttb berkali2 dan istirahat setiap 100m. Gilaa...edaan...sadis kata2 yang sering saya dengar selama menekuni satu demi satu tanjakan2 ini. Saya cuma bisa menghibur dengan kata-kata 5km lagi kok...hehehe
   Entah terlalu asik menikmati jalan datar, rute shortcut yang harusnya bisa memangkas banyak waktu jadi terlewat. Setelah RC om boni bertanya penduduk sekitar dan vote peserta akhirnya kami setuju untuk memakai jalur memutar.
   Menjelang azhar akhirnya kami tiba di pintu selamat datang curug malela. Ada yang membuat kami heran ternyata ada beberapa mobil berplat B terparkir disini. Melihat hancurnya jalan dan terpencilnya curug ini adalah mustahil memakai mobil selain tipe 4x4. Saya pikir bila akses jalan ke malela sudah bagus maka curug ini akan sangat ramai. Adanya sosial media dan keunikan dari curug malela itu sendiri mengundang banyak orang penasaran. Untung kami tiba sore hari jadi suasana di curug relatif sepi.
    Banyaknya pelancong yang berwisata kesini membuat curug ini melakukan pembenahan. Upaya perbaikan anak tangga dan fasilitas umum saat ini sedang dikerjakan. Yang paling menyita perhatian saya adalah keberadaan tukang ojek yang bisa membawa wisatawan hingga ke spot curug. Turunan yang terjal dengan mudah mereka lalui bahkan membawa penumpang sekalipun. Mengingatkan saya akan kelincahan para petani sayuran yang sedang membawa berkarung2 kol saat sedang menuruni bukit.
    Selesai berselfi ria dan turun naik ke tempat sepeda diparkir, kami mulai merencanakan perjalanan menuju pulang. Celakanya gps tool om boni hang alias kita tidak punya pedoman pulang menuju titik start. Waktu sudah pukul 16.30, benar2 time crisis bagi kami untuk kembali ke titik aman menuju pulang. Masalah rute pulang sudah saya antisipasi dengan membuat jalur backup yang sama dengan gps tool om boni. Untuk menuju pulang saya dipercayakan menjadi RC memimpin grup. Tanjakan yang bertubi2 saat berangkat pasti akan berbalas turunan yang panjang. Yap hanya butuh  satu jam saja untuk kembali ketitik nol ketika tanjakan bertubi2 dimulai.
    Sambil regrup dan mempersiapkan diri untuk perjalanan malam hari kami mulai menyusun formasi selama night ride. Belajar dari pengalaman saya sudah mengantisipasi hal ini dengan membawa lampu yang cukup terang.
     Dengan diiringi azan maghrib kami mulai menuju rute pulang. Tiba dititik pertemuan antara rute berangkat dan pulang, hari mulai gelap. Dari titik ini masih sekitar 6km lagi menuju jalan raya. Seperti apakah tipe jalan yang akan kami lalui, rolling atau menanjak, pertanyaan ini terbesit dihati kami.
     Untuk menenangkan hati sebelum melanjutkan perjalanan, kami melakukan ibadah shalat magrib dilanjutkan makan malam. Setelah berpamitan dengan warga dan sambil bertanya gambaran jalan pulang kami kembali menyusuri jalan pulang. Di iringi rasa was2 akan kejaran anjing penduduk kami mulai menapaki gelapnya malam. Jalan menuju pulang relatif lebar dan banyak melintasi perkampungan. Tapi secara tipe jalan inilah yang terkejam.... yap tipe tanjakan makadam lepas harus kami lewati satu demi satu. Walau lampu yang saya bawa cukup terang tetap saja tak banyak membantu melintasi jalur ini. Berkali hampir jatuh dan teman2 sudah cenderung tuntun sepeda. Lebih bijaksana bila kita berkompromi dengan jalan dibanding kita mengalami celaka dengan memaksa tetap menggowes dalam keadaan ini. Hp rusak, gps hang dan baut cleat yang lepas adalah rentetan cobaan menimpa om boni . Om budi dan om agus mulai running out stamina dan beruntung om nanang dan saya masih bisa mendampingi mereka yang mulai keteteran. Di perkampungan yang sepi berkali2 kami disapa warga yang terheran2 dengan lampu sepeda kami menembus kegelapan malam. Akhirnya kami bertemu dengan perkampungan terakhir...horee dalam hati saya karena tinggal berapa meter lagi adalah jalan raya.
     Setelah makan baso dan melakukan persiapan menuruni jalan raya kami pun semangat kembali. Menuruni jalan raya yang gelap dan berkelok2 bukannya tanpa bahaya. Adanya pasir berserak dijalan dan kendaraan yang melintas menuntut kewaspadaan kami. Setelah berjuang dalam dinginnya angin malam akhirnya kami tiba di stasiun Cibeber.
     Jam menunjukkan hampir jam 10 malam, hanya semangat ingin tiba dirumah yang tersisa dikami. Setelah mengantar om agus, kami pun beriringan pulang menuju jakarta. Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan trip eksplor curug malela ini dengan baik tanpa ada kendala yang berarti.



indahnya indonesia
melintas diantara persawahan
jembatan urat nadi
awesome
foto keluarga
titik start
membelah persawahan

tanjakan tanjakan bukit
meliuk liuk diantara hutan pinus

Untuk mengetahui lokasi curug malela, klik lokasi yang tertera di bawah.

Jumat, 14 Agustus 2015

Gowes Kuliner di Nawit

   Bagi para goweser Bekasi dan sekitarnya kuliner di Nawit Bondol sudah tidak asing lagi. Bila kita gowes ke arah Grand Wisata banyak para goweser memarkir sepedanya di Situ Cibereum. Disinilah biasanya cek poin pertama bila kita ingin melanjutkan ke arah Nawit. 
   Untuk jalur menuju Nawit berkarakter XC ringan dengan rute blusukan menmbus kampung kampung dan persawahan. Dahulu jalan jalan menuju Nawit masih tertinggal dan suasananya masih asri. Masuknya pembetonan jalan ke pelosok pelosok kampung membuat ciri khas blusukan di Nawit makin berkurang. Tanah tanah milik warga yang sudah berpindah tangan ke pemilik properti semakin membuat hati sedih. Yap seperti nasib tanah persawahan dan perkebunan di kampung lain yang siap beralih fungsi menjasi perumahan atau pabrik. 
   Kembali ke warung Nawit yang sudah melegenda, warung ini sudah ada sejak lama sebelum pembangunan jalan masuk ke daerah ini. Goweser senior yang sudah malang melintang di dunia persepedahan acap kali singgah diwarung ini. Dengan mempertahankan menu yang sama dari dulu hingga sekarang yaitu sayur asem dan ikan ikan kecil yang digoreng. Warung nawit selalu bikin goweser ketagihan akan menu yang sederhana ini.
   Untuk sementara ini saya belum bisa melengkapi dokumen gambar warung nawit. Mungkin dilain waktu kunjungan saya kesana bisa mendokumentasi warung tersebut.

Melintas dipersawahan

Jembatan bambu

Jembatan bambu 

Kuliner sayur asem dan ikan goreng yang 'yummy'

Blusukan

Aslinya ni nyasar...hehehe

Foto keluarga
Untuk lokasi Warung nawit bisa mengklik Lokasi yang tertera dibawah

Rabu, 12 Agustus 2015

Banjir Kanal Timur

  Banjir kanal timur yg lebih dikenal dengan sebutan BKT sangat familiar bagi para goweser ibukota. Keberadaan destinasi ini yang mudah dijangkau dan jalannya yang landai membuat jalur ini nyaman untuk pemula. 
  Untuk para goweser pemula tantangan terberat adalah melawan angin dan menaklukan mental untuk melintas dijalan BKT. Rute yang panjang dan banyaknya kendaraan bermotor menjadikan BKT rawan kecelakaan. 
  Membentang dari Cipinang sampai Marunda jalur BKT ini cukup jauh untuk kita telusuri. Bila hari minggu di BKT wilayah cipinang dipakai untuk aktivitas olahraga masyarakat.  Tidak lupa pedagang yang berjualan membuat semakin semrawut jalur yang aslinya untuk peruntukan sepeda. Banyak goweser lebih memilih menuju marunda untuk menghidari 'traffic' yang menyebalkan. 

BKT di malam hari
Diatas jembatan


Kuliner ikan bakar di Marunda

Senja di ujung BKT

Menanti Senja

Akhir dari BKT
Untuk Informasi lokasi akhir dari jalur BKT, klik lokasi yang tertera dibawah

Selasa, 11 Agustus 2015

Situ Kembar Taruma Jaya

   Sebagai orang Bekasi untuk mencari spot gowes dekat2 rumah sudah minim sekali. Banyaknya sawah yang beralih fungsi menjadi perumahan dan pabrik menjadikan wilayah ini gersang dan panas. Setelah penelusuran dari google map ternyata didaerah Taruma Jaya masih ada situ yang masih alami. Situ ini dikelilingi perumahan perumahan,  kemungkinan besar tinggal menunggu waktu saja  situ ini akan hilang.
    Situ ini biasanya hanya dikunjungi para pemancing lokal dan penjala ikan. Sedangkan untuk wilayah daratnya dipakai remaja2 sekitar untuk bermain bola.


 
Sekitar situ 

Ada single tracknya  



Sunset

Bila beruntung kita bisa dapat view seperti ini


Family trip 

Untuk informasi lokasi situ kembar klik lokasi yang tertera dibawah